BUKAN BETA BIJAK BERPERI

Rustam Efendi

Bukan beta bijak berperi

Pandai mengubah madahan syair

Bukan bela budak negeri

Musti menurut undangan mair

Syarat sarat saya mungkiri

Untai rangkaian seloka lama

Beta buang beta singkiri

Sebab laguku menurut sukma

Susah sungguh saya sampaikan

Degub-deguban di dalam kalbu

Lemah laun lagu dengungan

Matnya digamat rasain waktu

Sering saya susah sesaat

Sebab madahan tidak nak datang

Sering saya sulit mendekat

Sebab terkurung kikisan mamang

Bukan beta bijak berlagu

Dapat melemah bingkaian pantun

Bukan beta berbuat baru

Hanya mendengar bisikan alam

I. ANALISIS

BUKAN BETA BIJAK BERPERI

1. Tipografi

Tipografi yang dimiliki oleh puisi-puisi sajak “Bukan Beta Bijak Berperi” merupakan jenis tipografi yang teratur karena memiki jumlah suku kata yang sama yaitu 8-12 suku  kata. Selain itu juga memiliki jumlah kata yang tidak berbeda jauh dan persamaan bunyi yang serupa. Hal tersebut dimaksudkan agar irama dan rimanya menjadi teratur dan semakin indah untuk diperdengarkan dan dinikmati pembaca.

2. Diksi

Diksi yang digunakan disesuaikan dengan rimanya, sehingga mengambil sebagian diksi dari bahasa daerah dan bahasa lain. Diksi tersebut cocok digunakan dalam puisi tersebut. Rimanya sesuai dan memperindah puisi. Akan tetapi, diksi yang diambil dari bahasa tersebut kurang familiar di kalangan pembaca. Sehingga membuat pembaca yang masih awam merasa kesulitan dalam menafsirkan makna dan amanat dari puisi tersebut.

Diksi-diksi yang digunakan tersebut seperti, beta, bijak, berperi, madahan, mair, seloka, singkiri, sukma, laun, kalbu, mat, digamat, nak, mamang, dan alun. Diantara kata-kata terebut ada yang masih sangat jarang digunakan dalam karya sastra misalnya,

a.       Berperi        : berkata

b.      Madahan     : pujian

c.       Mair            : maut; kematian

d.      Seloka         : jenis puisi yang mengandung ajaran/sindiran

e.       Singkiri        : menghindari

f.        Laun            : pelan-pelan; perlahan; lambat

g.       Mat             : irama

h.       Gamat         : berlagu; melagukan

i.         Nak            : hendak

j.        Mamang      : peribahasa yang mengandung nasihat, bingung ketakutan

Puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” sangat sesuai untuk pembaca yang ingin menambah kosa kata baru di dunia kebahasaan. Selain itu, memperluas pandangan terhadap hal-hal yang baru.

3. Bahasa Kiasan dan Bahasa Retorik

Bahasa kiasan yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” terdapat tiga macam majas, yaitu:

a.       Majas Hiperbola

1)      Bukan beta budak negeri

2)      Meski menurut undangan mair

b.      Majas Personifikasi

1)      Dapat terkurung kikisan memang

2)      Dapat melemah bingkaian pantun

c.       Majas Tautologi

1)      Untai rangkaian seloka lama

d.      Majas Repetisi

1)      Bukan beta bijak berperi

2)      Bukan beta budak negeri

3)      Bukan beta bijak berlagu

4)      Bukan beta berbuat baru

4. Rima

Rima yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” bersajak silang a b a b. Dalam persajakan tersebut terdapat pula Aliterasi dan Asonansi.

Aliterasi yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” yaitu;

a.       Bait 1

1)      Bukan beta bijak berperi

2)      Bukan beta budak negeri

b.      Bait 2

1)      Syarat sarat saya mungkiri

2)      Beta buang beta singkiri

c.       Bait 3

1)      Susah sungguh saya sampaikan

2)      Degub-deguban di dalam kalbu

3)      Lemah laun lagu dengungan

d.      Bait 4

1)      Sering saya susah sesaat

2)      Sering saya sulit mendekat

e.       Bait 5

1)      Bukan beta bijak berlagu

2)      Bukan beta berbuat baru

Asonansi yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” adalah,

a.       Bait 2

1)      Syarat sarat saya mungkiri

2)      Untai rangkaian seloka lama

b.      Bait 3

1)      Matnya digamat rasain waktu

5. Imaji

Imaji yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” adalah unsur dengaran. Unsur dengaran tersebut diterangkan pada beberapa baris puisi, yaitu:

a.       Lemah laun lagu dengungan

b.      Matnya digamat rasain waktu

c.       Hanya mendengar bisikan alun

6. Tema dan Amanat

Tema dari puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” adalah Kebebasan berkarya sastra.

Amanat yang dapat diambil dari puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” adalah:

a.       Percayalah pada diri sendiri dalam membuat suatu karya.

b.      Jangan mudah putus asa dalam melakukan pekerjaan, orang lain akan tetap menghargainya.

c.       Carilah insiprasi dalam hidup dimana saja.

d.      Hendaknya kita jangan pesimistis.

e.       Jangan bimbang dan takut dalam melakukan hal yang dianggap benar.

7. Makna Puisi

Makna dari puisi diatas adalah penulis mengungkapkan bahwa dirinya tidak dapat berkata dengan bijaksana. Tidak pandai mengubah pujian dari syair. Penulis bukanlah budak Negara, walaupun harus menghadapi kematian. Ketentuan penuh telah penulis abaikan. Bahkan serangkaian sajak seloka lama, penulis juga telah mengabaikannya, karena penulis menganggap lagunya lahir dari jiwanya. Penulis merasa kesulitan untuk dapat menyampaikan irama yang terdapat dalam hati sanubari penulis. Lagu berdengung dengan lemah dan pelan, iramanya dilagukan sesuai dengan keadaan dan waktu. Kadang penulis merasakan kesusahan yang sesaat, karena menanti pujian. Penulis juga  merasa sulit untuk dapat mendekat karena terperangkap dan terkikis oleh kebingungan dan ketakutan. Penulis tidak pandai dalam berlagu karena dapat melemahkan rangkaian pantun. Penulis tidak melakukan hal yang baru karena hanya mendengar lantunan lagu.

SAJAK

Sanusi Pane

O, bukanlah dalam kata yang rancak

Kata yang belik kebagusan sajak

O, pujangga buanglah segala kata

Yang akan mempermainkan mata

Dan hanya dibaca sepintas lalu

Karena tak kekuasaan dari sukma

Seperti matahari mencintai bumi

Memberi sinar selama-lamanya

Tidak meminta sesuatu kembali

Harus cintaimu senantiasa

II. ANALISIS

SAJAK

1. Tipografi

Tipografi yang dimiliki oleh puisi “Sajak” merupakan jenis tipografi yang teratur dengan baris dan bait yang tidak resmi. Maksudnya adalah baris dan bait yang tidak resmi yaitu bait pertama dan bait kedua memiliki jumlah baris yang berbeda. Sedangkan hal tersebut bukanlah aturan yang resmi. Jumlah suku kata dan katanya sebenarnya juga hampir sama, itu menandakan bahwa jenis tipografi tersebut masih teratur.

2. Diksi

Diksi yang digunakan dalam puisi “Sajak” memadukan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Walaupun demikian, bahasanya tetap mudah untuk dimengerti dan dipahami. Kata-kata tersebut disuaikan dengan bait sesudah atau sebelumnya sehingga rimanya semakin indah untuk di ucapkan. Kesemuanya membuat puisi “Sajak” menjadi menarik sehingga pesannya juga lebih cepat diterima oleh pembaca.

Diksi yang masih dirasa sulit akan dijelaskan secara lebih menyeluruh, seperti:

a.       Rancak              : bagus; gembira; elok; giat; cepat; penggalan; cantik.

b.      Pelik                  : sangat rumit

c.       Sepintas lalu       : sambil lalu; selayang pandang; hanya sebentar

d.      Sukma               : jiwa; nyawa

3. Bahasa Kiasan dan Bahasa Retorik

Dalam puisi “Sajak” terdapat beberapa bahasa kiasan, yang dibuat untuk mempercantik puisi. Sehingga puisi menjadi semakin menarik. Dalam puisi “Sajak” terdapat beberapa kata kiasan, yaitu:

a.       Majas Personifikasi

1)      O, pujangga buanglah segala kata

2)      Yang akan mempermainkan mata

b.      Majas Asosiasi

1)      Seperti matahari mencintai bumi

c.       Majas Hiperbola

1)      Seperti matahari mencintai bumi

4. Rima

Rima yang digunakan pada bait pertama a a b b c a, dan pada bait kedua memiliki rima yang beraturan yaitu, a b a b. Ada juga dalam persajakan puisi “Sajak” Asonansi, yaitu:

a.       Yang akan mempermainkan mata

b.      Seperti matahari mencintai bumi

5. Imaji

Unsur imaji yang terdapat pada puisi “Sajak” adalah imaji yang melibatkan penglihatan. Yaitu pada bait ke satu, baris ke empat “Yang akan mempermainkan kata”, menunjukkan bahwa indra penglihatan akan dibayangkan oleh pembaca saat membaca puisi “Sajak” ini.

6. Tema dan Amanat

Tema dari puisi “Sajak” adalah Kecintaan terhadap karya sastra.

Amanat yang tersirat dari puisi “Sajak” ini adalah,

a.       Hendaknya kita melakukan sesuatu dengan niat dari dalam hati.

b.      Kita harus tulus dan ikhlas dalam melakukan sesuatu agar mendapatkan hasil yang optimal.

c.       Pilihlah pilihan yang terbaik dalam melakukan sebuah pekerjaan.

7. Makna Puisi

Makna yang terdapat pada puisi “Sajak” mengungkapkan sajak bukanlah dalam kata yang baik, kata-katanya yang sulit memperindah sajak. Pujangga hendaknya memilih kata-kata yang tidak akan membuat klise dalam sajak. Itu akan membuat pembaca hanya membaca sekilas saja. Karena tidak berasal dari jiwa, hati sanubari. Penulis mengibaratkan seperti matahari yang mencintai bumi, yang akan memberikan sinar dan kehangatan sampai akhir zaman. Tanpa meminta imbalan dan dengan tulus ikhlas, mencintai sajak sepanjang masa.

III. PEMBAHASAN

Hasil Perbandingan Puisi Bukan Beta Bijak Berperi dan Sajak

1. Tipografi

Jenis tipografi dalam puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” merupakan jenis tipografi yang teratur, sedangkan dalam puisi “Sajak” merupakan jenis tipografi yang teratur dengan baris dan bait yang tidak resmi.

2. Diksi

Kedua puisi menggunakan diksi yang diambil dari bahasa daerah atau asing. Kesemuanya memiliki tujuan agar rimanya sesuai dan akan dapat mempercantik puisi tersebut.

Akan tetapi dalam “Bukan Beta Bijak Berperi” diksi yang diambil dari bahasa tersebut kurang familiar di kalangan pembaca. Sehingga membuat pembaca yang masih awam merasa kesulitan dalam menafsirkan makna dan amanat dari puisi tersebut. Sedangkan diksi yang digunakan dalam puisi “Sajak” bahasanya tetap mudah untuk dimengerti dan dipahami

3. Bahasa Kiasan dan Bahasa Retorik

Bahasa kiasan yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” terdapat tiga macam majas, yaitu Majas Hiperbola, Majas Personifikasi, Majas Tautologi, dan Majas Repetisi. Sedangkan puisi “Sajak” terdapat tiga majas yaitu Majas Personifikasi, Majas Asosiasi, dan Majas Hiperbola.

4. Rima

Rima yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” bersajak silang a b a b. Dalam persajakan tersebut terdapat pula Aliterasi dan Asonansi. Sedangkan rima yang digunakan puisi “Sajak” pada bait pertama a a b b c a, dan pada bait kedua memiliki rima yang beraturan yaitu, a b a b. Didalamnya juga terdapat persajakan Aliterasi.

5. Imaji

Imaji yang terdapat pada puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” adalah unsur dengaran. Terbukti pada kata dengunga, Matnya digamat mendengar, bisikan alun.

Unsur imaji yang terdapat pada puisi “Sajak” adalah imaji yang melibatkan penglihatan. Yaitu pada bait ke satu, baris ke empat “Yang akan mempermainkan kata”,

6. Tema dan Amanat

Tema dari puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” adalah Kebebasan berkarya sastra.

Amanat yang dapat diambil dari puisi “Bukan Beta Bijak Berperi” adalah:

a.       Percayalah pada diri sendiri dalam membuat suatu karya.

b.      Jangan mudah putus asa dalam melakukan pekerjaan, orang lain akan tetap menghargainya.

c.       Carilah insiprasi dalam hidup dimana saja.

d.      Hendaknya kita jangan pesimistis.

e.       Jangan bimbang dan takut dalam melakukan hal yang dianggap benar.

Sedangkan dalam tema dari puisi “Sajak” adalah Kecintaan terhadap karya sastra.

Amanat yang tersirat dari puisi “Sajak” ini adalah,

a.       Hendaknya kita melakukan sesuatu dengan niat dari dalam hati.

b.      Kita harus tulus dan ikhlas dalam melakukan sesuatu agar mendapatkan hasil yang optimal.

c.       Pilihlah pilihan yang terbaik dalam melakukan sebuah pekerjaan.

7. Makna Puisi

Makna puisi yang terdapat pada “Bukan Beta Bijak Berperi” menceritakan tentang kebimbangan dan ketakutan penulis dalam mengekspresikan karya sastra walaupun telah mengabaikan aturan. Sedangkan pada puisi “Sajak” menggambarkan ketulusikhlasan dalam membuat karya sastra sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.